Bawang Hitam: Apa yang Sebenarnya Dikatakan Riset Terbaru?

Kalau Anda pernah melihat bawang hitam, pasti penasaran: apakah ini bawang putih yang gosong? Bukan. Dan riset dalam beberapa tahun terakhir menunjukkan bahwa perbedaannya lebih dari sekadar warna.
Bagaimana Bawang Hitam Dibuat
Bawang hitam dihasilkan dari bawang putih segar melalui reaksi Maillard pada suhu tinggi (60–90 °C) dan kelembapan tinggi (70–90%) selama beberapa waktu. Tidak ada bahan tambahan dan tidak ada pembakaran. Selama pemeraman, siung berubah menjadi hitam, teksturnya lembut dan sedikit lengket, rasanya manis dengan aroma yang jauh lebih ringan daripada bawang putih mentah.
Perubahan itu bukan hanya soal rasa. Komposisi kimianya ikut bergeser: kandungan allicin lebih sedikit, tetapi S-allylcysteine (SAC) jauh lebih banyak. SAC adalah senyawa belerang yang larut dalam air, mudah diserap tubuh, dan lebih stabil dibanding allicin.
Antioksidan: Konsisten Lebih Tinggi dari Bawang Putih Mentah
Ini temuan yang paling sering berulang di literatur. Berbagai studi mengukur kapasitas antioksidan total bawang hitam yang secara signifikan lebih tinggi daripada bawang putih segar, dengan hasil uji laboratorium yang konsisten. Antioksidan berperan membantu tubuh menghadapi radikal bebas dari metabolisme, polusi, dan gaya hidup.
Senyawa Aktifnya Lebih "Tersedia" untuk Tubuh
Studi simulasi pencernaan di laboratorium membandingkan keduanya. Hasilnya, setelah melewati proses pencernaan, sekitar 55,3% senyawa organosulfur tetap tersedia pada bawang hitam, dibanding hanya 15% pada bawang putih segar. Ini bukan uji pada manusia, tetapi memberi petunjuk mengapa bawang hitam menarik untuk diteliti.
Sistem Peredaran Darah: Hasil yang Perlu Dibaca Jujur
Sebuah uji klinis di Spanyol melibatkan 62 orang. Peserta dibagi menjadi kelompok dengan kolesterol tinggi (31 orang) dan kelompok sehat (31 orang). Mereka mengonsumsi 4 siung bawang hitam (12 gram) setiap hari selama 12 minggu. Peneliti menemukan peningkatan bermakna apolipoprotein A1 (ApoA1) pada kedua kelompok, serta penurunan sejumlah molekul adhesi endotel, yaitu penanda yang terkait dengan kondisi lapisan pembuluh darah.
Tetapi gambarnya tidak sepenuhnya seragam. Pada kelompok sehat, kadar LDL dan HDL sama-sama naik, sehingga para ulasnya menyebut hasilnya beragam. Kesimpulan penelitinya sendiri hati-hati: konsumsi bawang hitam berpotensi memperbaiki sebagian parameter fungsi endotel dan profil lipid, namun studi jangka panjang masih diperlukan. Uji acak terkontrol lain pada tahun 2026 (masih tahap pra-publikasi) juga sedang mengkaji efek ekstrak bawang hitam pada profil lipoprotein, dan menunjukkan bahwa bukti dari uji terkontrol masih terbatas.
Riset 2026: Dari Otot Hingga Usus
Beberapa penelitian baru muncul tahun ini:
- Penuaan otot (Cell Metabolism, Mei 2026). Peneliti dari Jepang menemukan bahwa S-1-propenylcysteine (S1PC), senyawa dalam ekstrak bawang putih yang diperam, memicu komunikasi antara jaringan lemak dan otak yang pada akhirnya meningkatkan kekuatan otot. Pada tikus tua, pemberian jangka panjang menurunkan skor kerapuhan, meningkatkan kekuatan otot, dan memulihkan suhu tubuh inti. Senyawa ini juga menarik karena hampir tidak ada di bawang putih mentah dan baru terbentuk selama proses pemeraman. Catatan penting: penelitian ini dilakukan pada hewan, dan para peneliti menyatakan efeknya pada otot manusia masih harus diuji.
- Kesehatan usus. Sebuah studi laboratorium 2026 melaporkan bahwa bawang hitam melindungi penghalang usus lebih baik daripada bawang putih putih, sekaligus meredam peradangan usus. Ini masih uji sel, belum uji pada manusia.
- Sel hati (Frontiers in Pharmacology, Maret 2026). Studi in vitro pada sel hati manusia membandingkan ekstrak bawang putih segar dan bawang hitam dalam pengaturan stres oksidatif. Penulisnya menekankan bahwa penelitian in vivo masih diperlukan untuk mengonfirmasi manfaatnya.
Membaca Riset dengan Kepala Dingin
Tiga hal yang layak diingat:
- Banyak bukti masih tahap awal. Sebagian besar riset yang paling menjanjikan dilakukan pada sel atau hewan. Hasil seperti itu adalah petunjuk arah, bukan kesimpulan akhir untuk manusia.
- Bentuk dan dosis berbeda-beda. Ada studi memakai siung utuh, ada yang memakai ekstrak, ada yang memakai satu senyawa terisolasi. Hasilnya tidak bisa saling menggantikan.
- Respons tiap orang berbeda. Riset tentang satu bahan tidak otomatis berlaku untuk produk tertentu.
Selain itu, siapa pun yang alergi terhadap bawang putih sebaiknya menghindari bawang hitam. Jika Anda sedang rutin mengonsumsi obat dari dokter, terutama yang memengaruhi pembekuan darah, konsultasikan dulu sebelum menambah konsumsi bawang hitam dalam bentuk apa pun.
Ingin mengenal ProHG Premium, produk herbal cair dengan ekstrak bawang hitam bersama propolis dan habbatussauda? Kunjungi halaman ProHG Premium di prohg.id
Referensi:
- Villaño, D., Marhuenda, J., Arcusa, R., Moreno-Rojas, J. M., Cerdá, B., Pereira-Caro, G., & Zafrilla, P. (2023). Effect of Black Garlic Consumption on Endothelial Function and Lipid Profile: A Before-and-After Study in Hypercholesterolemic and Non-Hypercholesterolemic Subjects. Nutrients, 15(14), 3138. https://doi.org/10.3390/nu15143138
- Suzuki dkk. (2026). Garlic-derived metabolite activates LKB1, promotes adipose eNAMPT secretion, and improves age-related muscle function via hypothalamic signaling. Cell Metabolism. Terbit daring 7 Mei 2026. https://doi.org/10.1016/j.cmet.2026.04.006
- Differential effects of fresh and black garlic extracts on oxidative stress regulation and anti-inflammatory response properties in human HepG2 cells: An in vitro study. Frontiers in Pharmacology (2026). https://www.frontiersin.org/journals/pharmacology/articles/10.3389/fphar.2026.1776975/full
- Bioaccessibility of Bioactive Compounds of 'Fresh Garlic' and 'Black Garlic' through In Vitro Gastrointestinal Digestion. https://www.ncbi.nlm.nih.gov/pmc/articles/PMC7693347/
- Black Garlic and Its Bioactive Compounds on Human Health Diseases: A Review. https://www.ncbi.nlm.nih.gov/pmc/articles/PMC8401630/
- Aged-black garlic (Abg10+®) supplementation effect in blood lipoprotein profile in Grade I Hypertensive subjects. A randomized, triple-blind controlled trial. medRxiv (2026), pra-publikasi, belum melalui peer review. https://www.medrxiv.org/content/10.64898/2026.04.20.26351262.full.pdf